<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PERPUSTAKAAN BAHASA PLUS</title>
	<atom:link href="http://elmubahasa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://elmubahasa.wordpress.com</link>
	<description>Mari kita  berbahasa Indonesia yang baik dan benar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 Dec 2009 03:47:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='elmubahasa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PERPUSTAKAAN BAHASA PLUS</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://elmubahasa.wordpress.com/osd.xml" title="PERPUSTAKAAN BAHASA PLUS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://elmubahasa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kalimat dengan Struktur Rancu</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-dengan-struktur-rancu/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-dengan-struktur-rancu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 03:23:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA]]></category>
		<category><![CDATA[Sintaksis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat rancu adalah kalimat yang kacau susunannya. Menurut Badudu (1983:21) timbulnya kalimat rancu disebabkan oleh (1) pemakain bahasa tidak menguasai benar struktur  bahasa Indonesia yang baku, yang baik dan benar, (2) pemakai bahasa tidak memiliki cita rasa bahasa yang baik sehingga tidak merasakan kesalahan bahasa yang dibuatnya, (3) dapat juga kesalahan itu terjadi tidak dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=140&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kalimat rancu adalah kalimat yang kacau susunannya. Menurut Badudu (1983:21) timbulnya kalimat rancu disebabkan oleh (1) pemakain bahasa tidak menguasai benar struktur  bahasa Indonesia yang baku, yang baik dan benar, (2) pemakai bahasa tidak memiliki cita rasa bahasa yang baik sehingga <span id="more-140"></span>tidak merasakan kesalahan bahasa yang dibuatnya, (3) dapat juga kesalahan itu terjadi tidak dengan sengaja. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh-contoh berikut.</p>
<ol>
<li>Mahasiswa dilarang tidak boleh memakai sandal pada waktu mengikuti perkuliahan.</li>
<li>Dia selalu mengenyampingkan masalah itu.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kalimat (1) terjadi kerancuan karena pemakaian kata dilarang dan tidak boleh disatukan pemakaiannya. Kedua kata tersebut sama maknanya. Jadi, kalimat (1) dapat diperbaiki menjadi kalimat (1a), (1b). Pada kalimat (2) kerancuan terjadi pada pembentukan kata dan kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi kalimat (2a).<br />
(1a) Mahasiswa dilarang memakai sandal pada waktu mengikuti perkuliahan.<br />
(1b) Mahasiswa tidak boleh  memakai sandal pada waktu mengikuti perkuliahan.<br />
(2a) Dia selalu mengesampingkan masalah itu.<br />
Di samping itu, juga terdapat bentuk kalimat yang tidak tersusun secara sejajar. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut. (3) Program kerja ini sudah lama diusulkan, tetapi pimpinan belum menyetujui.<br />
Ketidak sejajaran bentuk pada kalimat di atas disebabkan oleh penggunaan bentuk kata kerja pasif diusulkan yang dikontraskan dengan bentuk aktif menyetujui. Agar menjadi sejajar, bentuk pertama menggunakan bentuk pasif, hendaknya bagian kedua pun menggunakan bentuk pasif. Sebaliknya, jika yang pertama aktif, bagian kedua pun aktif. Dengan demikian, kalimat tersebut akan memiliki kesejajaran jika bentuk kata kerja diseragamkan menjadi seperti di bawah ini.<br />
(3a) Program kerja ini sudah lama diusulkan, tetapi belum disetujui pimpinan.<br />
(3b) Kami sudah lama mengusulkan program ini, tetapi pimpinan belum menyetujuinya.<br />
Berikut ini, contoh lain dari kalimat dengan struktur rancu yang sering kita jumpai dalam tulisan di koran-koran atau media massa lainnya dan berikut perbaikannya.</p>
<ul>
<li>Meskipun presiden punya agenda besar soal demiliterisasi politik dan penegakan hak asasi tetapi itu tidak dengan mudah menuntaskan persoalan kekerasan atau militerisme di Indonesia.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Penggunaan pasangan meskipun&#8230;tetapi pada kalimat tersebut akan menimbulkan kerancuan pikiran. Kata meskipun menyatakan ‘alasan ‘, sedangkan kata tetapi menyatakan ‘perlawanan’. Penggabungan dua kata penghubung itu dalam satu kalimat tentulah menimbulkan hubungan pikiran yang tidak logis. Perbaikan kalimat  tersebut adalah sebagai berikut.</p>
<ul>
<li>Presiden punya agenda besar soal demiliterisasi politik dan penegakan hak asasi tetapi itu tidak dengan mudah menuntaskan persoalan kekerasan atau militerisme di Indonesia.</li>
</ul>
<ul>
<li>Meskipun presiden punya agenda besar soal demiliterisasi politik dan penegakan hak asasi, itu tidak dengan mudah menuntaskan persoalan kekerasan atau militerisme di Indonesia.</li>
</ul>
<br />Posted in BAHASA, Sintaksis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=140&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-dengan-struktur-rancu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalimat Mengandung Gejala Pleonasme</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-mengandung-gejala-pleonasme/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-mengandung-gejala-pleonasme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 03:09:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA]]></category>
		<category><![CDATA[Sintaksis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat pleonasme adalah kalimat yang tidak ekonomis atau mubazir karena ada terdapat kata-kata yang sebetulnya tidak perlu digunakan. Menurut Badudu (1983:29) timbulnya gejala pleonasme disebabkan oleh (a) dua kata atau lebih yang sama maknanya dipakai sekaligus dalam suatu ungkapan. (b) Dalam suatu ungkapan yang terdiri atas dua patah kata, kata kedua sebenarnya tidak diperlukan lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=137&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kalimat pleonasme adalah kalimat yang tidak ekonomis atau mubazir karena ada terdapat kata-kata yang sebetulnya tidak perlu digunakan. Menurut Badudu (1983:29) timbulnya gejala pleonasme disebabkan oleh (a) dua kata atau lebih yang sama maknanya dipakai sekaligus dalam suatu ungkapan. (b) <span id="more-137"></span>Dalam suatu ungkapan yang terdiri atas dua patah kata, kata kedua sebenarnya tidak diperlukan lagi sebab maknanya sudah terkandung dalam kata yang pertama, dan (c) Bentuk kata yang dipakai mengandung makna <!--more-->yang sama dengan kata-kata lain yang dipakai bersama-sama dalam ungkapan itu. Contoh-contoh pemakaian bentuk mubazir dapat dilihat dalam kalimat berikut ini.</p>
<ol>
<li>Banyak pemikiran-pemikiran yang dilontarkan dalam pertemuan tersebut.</li>
<li>Pembangunan daripada waduk itu menjadi sia-sia pada musim kemarau panjang ini.</li>
<li>Air sumur yang digunakan penduduk tidak sehat untuk digunakan.</li>
<li>Jika dapat ditemukan beberapa data lagi. Maka gejala penyimpangan perilaku itu dapat disimpulkan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Seharusnya, kata pemikiran dalam kalimat (1) tidak perlu di ulang karena bentuk jamak sudah dinyatakan dengan menggunakan kata banyak. Dengan kata lain, kata banyak dapat juga dihilangkan.<br />
Kalimat (2) kata daripada tidak perlu digunakan karena antara unsur-unsur frase pemilikan tidak diperlukan preprosisi.<br />
Kalimat (3) terdapat pengulangan keterangan ‘yang digunakan’ pengulangan ini tidak perlu.<br />
Kalimat (4) terdapat dua buah konjungsi yaitu jika dan maka.Dengan adanya dua konjungsi ini, tidak diketahui unsur mana sebagai induk kalimat dan unsur mana sebagai anak kalimat. Dengan demikian, kedua unsur itu merupakan anak kalimat. Jadi, kalimat (4) tidak mempunyai induk kalimat. Kalau begitu, satu konjungsi harus dihilangkan supaya satu dari dua unsur itu menjadi induk kalimat. Jadi, kalimat-kalimat, kalimat-kalimat(1-4) dapat diubah menjadi kalimat efektif sebagaimana terlihat pada data berikut.</p>
<ol>
<li>Banyak pemikiran yang dilontarkan dalam pertemuan tersebut.</li>
<li>Pembangunan waduk itu menjadi sia-sia pada musim kemarau panjang ini.</li>
<li>Air sumur yang digunakan penduduk tidak sehat.</li>
<li>Jika dapat ditemukan beberapa data lagi. gejala penyimpangan perilaku itu dapat disimpulkan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Berikut akan dicontohkan kalimat pleonasme yang terdiri dari atas dua kata atau lebih yang mempunyai makna hampir sama.<br />
Kita harus bekerja keras agar supaya tugas ini dapat berhasil.<br />
Kalimat (5) akan efektif jika diubah menjadi:<br />
(5a) Kita harus bekerja keras supaya tugas ini dapat berhasil.<br />
(5b) Kita harus bekerja keras agar tugas ini dapat berhasil.</p>
<br />Posted in BAHASA, Sintaksis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=137&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-mengandung-gejala-pleonasme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalimat Bermakna Tidak Logis</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-bermakna-tidak-logis/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-bermakna-tidak-logis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 03:02:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA]]></category>
		<category><![CDATA[Sintaksis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat efektif harus dapat diterima oleh akal sehat atau bersifat logis. Kalimat (a) berikut tergolong kalimat yang tidak logis. (a) Dengan mengucapkan syukur alhamdullilah selesailah makalah ini. Kalau kita perhatikan sepintas kalimat (a) di atas tampaknya tidak salah. Apabilah diperhatikan lebih seksama ternyata tidak masuk akal. Seseorang untuk menyelesaikan sebuah makalah harus bekerja dulu dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=135&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kalimat efektif harus dapat diterima oleh akal sehat atau bersifat logis. Kalimat (a) berikut tergolong kalimat yang tidak logis. (a) Dengan mengucapkan syukur alhamdullilah selesailah makalah ini. Kalau kita <span id="more-135"></span>perhatikan sepintas kalimat (a) di atas tampaknya tidak salah. Apabilah diperhatikan lebih seksama ternyata tidak masuk akal. Seseorang untuk menyelesaikan sebuah makalah harus bekerja dulu dan tidak mungkin makalah itu dapat selesai hanya dengan membaca alhamdullilah. Jadi, supaya kalimat itu dapat diterima, kalimat itu dapat diubah menjadi: (a1) Syukur alhamdullilah penulis panjatkan ke hadirat Allah Yang Mahakuasa karena dengan izin-Nya jualah makalah ini dapat diselesaikan.</p>
<br />Posted in BAHASA, Sintaksis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=135&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-bermakna-tidak-logis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalimat Mengandung Makna Ganda</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-mengandung-makna-ganda/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-mengandung-makna-ganda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 03:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA]]></category>
		<category><![CDATA[Sintaksis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Agar kalimat tidak menimbulkan tafsir ganda, kalimat itu harus dibuat selengkap mungkin atau memanfaatkan tanda baca tertentu. Untuk lebih jelasnya perhatikan data berikut. Dari keterangan masyarakat daerah itu  belum pernah diteliti. Lukisan Basuki Abdullah sangat terkenal Pada kalimat (1) di atas terdapat dua kemungkinan hal yang belum pernah diteliti yaitu masyarakat di daerah atau daerahnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=133&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Agar kalimat tidak menimbulkan tafsir ganda, kalimat itu harus dibuat selengkap mungkin atau memanfaatkan tanda baca tertentu. Untuk lebih jelasnya perhatikan data berikut.</p>
<ol>
<li>Dari keterangan masyarakat daerah itu  belum pernah diteliti.</li>
<li>Lukisan Basuki Abdullah sangat terkenal</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pada kalimat (1) di atas terdapat dua kemungkinan hal yang belum pernah diteliti yaitu masyarakat di daerah atau daerahnya. Agar konsep yang <span id="more-133"></span>diungkapkan kalimat itu jelas, tanda koma harus digunakan sesuai dengan konsep yang dimaksudkan. Kalimat (1) tersebut dapat ditulis sebagai berikut. (1a) Dari keterangan (yang diperoleh), masyarakat daerah itu belum pernah diteliti. (1b) Dari keterangan masyarakat, daerah itu belum pernah diteliti. Pada kalimat (2) terdapat tiga kemungkinan ide yang dikemukakan yaitu, yang sangat terkenal adalah lukisan karya Basuki Abdullah atau lukisan diri Basuki Abdullah atau lukisan milik Basuki Abdullah seperti yang terterang berikut: (2a) Lukisan karya Basuki Abdullah sangat terkenal. (2b) Lukisan diri Basuki Abdullah sangat terkenal. (2c) Lukisan milik Basuki Abdullah sangat terkenal.<br />
Pemakaian tanda hubung juga dapat digunakan untuk memperjelas ide-ide yang diungkapkan pada frase pemilikan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kalimat berikut. (3) Ani baru saja membeli buku sejarah baru. Kalimat (3) di atas mengandung ketaksaan yaitu yang baru itu sejarahnyakah atau  buku sejarahhnya yang baru.<br />
Untuk menghindari ketaksaan makna, digunakan tanda hubung agar konsep yang diungkapkan jelas sesuai dengan yang dimaksudkan. Kalimat (3a) yang baru adalah sejarahnya. (3a) Ani baru saja membeli buku-sejarah baru. (3b) Ani baru saja membeli buku sejarah-baru.</p>
<br />Posted in BAHASA, Sintaksis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=133&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-mengandung-makna-ganda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalimat Dipengaruhi oleh Bahasa Asing dan Bahasa Daerah</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-dipengaruhi-oleh-bahasa-asing-dan-bahasa-daerah/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-dipengaruhi-oleh-bahasa-asing-dan-bahasa-daerah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 02:52:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA]]></category>
		<category><![CDATA[Sintaksis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Dalam karangan ilmiah sering dijumpai pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam mana, di dalam mana, dari mana, dan yang mana sebagai penghubung (Ramlan, 1994:35-37). Penggunaan bentuk-bentuk tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Bentuk di mana sejajar dengan penggunaan where, dalam mana dan di dalam mana sejajar dengan pemakaian in which, dan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=131&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dalam karangan ilmiah sering dijumpai pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam mana, di dalam mana, dari mana, dan yang mana sebagai penghubung (Ramlan, 1994:35-37). Penggunaan bentuk-bentuk tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Bentuk di mana sejajar dengan penggunaan where, dalam mana dan di dalam mana sejajar dengan pemakaian in which, dan yang mana sejajar dengan which. Dikatakan dipengaruhi bahasa Inggris karena dalam bahasa Inggris bentuk-bentuk itu lazim digunakan sebagai penghubung.<br />
<span id="more-131"></span>Pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam mana, di dalam mana, dari mana, dan yang mana sering ditemui dalam tulisan seperti yang terlihat pada data berikut.</p>
<ol>
<li>Kantor di mana dia bekerja tidak jauh dari rumahnya.</li>
<li>Kita akan teringat peristiwa 56 tahun yang lalu di mana waktu itu bangsa Indonesia telah berikrar.</li>
<li>Rumah yang di depan mana terdapat kios kecil kemarin terbakar.</li>
<li>Sektor pariwisata yang mana merupakan tulang punggung perekonomian negara harus senantiasa ditingkatkan.</li>
<li>Mereka tinggal jauh dari kota dari mana lingkungannya masih asri.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Bentuk-bentuk di mana, dalam mana, di dalam mana, dari mana, dan yang mana dalam bahasa Indonesia dipakai untuk menandai kalima tanya. Bentuk di mana dan dari mana dipakai untuk menyatakan ‘tempat’ yaitu ‘tempat berada’ dan ‘tempat asal’, sedangkan yang mana untuk menyatakan pilihan. Jadi, kalimat (1-5) di atas seharusnya diubah menjadi:</p>
<ol>
<li>Kantor tempat dia bekerja tidak jauh dari rumahnya.</li>
<li>Kita akan teringat peristiwa 56 tahun yang lalu yang waktu itu bangsa Indonesia telah berikrar.</li>
<li>Rumah yang di depan kios kecil kemarin terbakar.</li>
<li>Sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung perekonomian negara harus senantiasa ditingkatkan.</li>
<li>Mereka tinggal jauh dari kota yang lingkungannya masih asri.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<br />Posted in BAHASA, Sintaksis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=131&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-dipengaruhi-oleh-bahasa-asing-dan-bahasa-daerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketidaklengkapan Unsur Kalimat</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/ketidaklengkapan-unsur-kalimat/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/ketidaklengkapan-unsur-kalimat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 02:48:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA]]></category>
		<category><![CDATA[Sintaksis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya bahwa kalimat efektif harus memiliki unsur-unsur yang lengkap dan eksplisit. Untuk itu, kalimat efektif sekurang-kurangnya harus mengandung unsur subjek dan predikat. Jika salah satu unsur atau kedua unsur itu tidak terdapat dalam kalimat, tentu saja kalimat ini tidak lengkap. Adakalanya suatu kalimat membutuhkan objek dan keterangan, tetapi karena kelalaian penulis, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=128&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya bahwa kalimat efektif harus memiliki unsur-unsur yang lengkap dan eksplisit. Untuk itu, kalimat efektif sekurang-kurangnya harus mengandung unsur subjek dan predikat. Jika salah satu unsur atau kedua unsur itu tidak terdapat dalam kalimat, tentu saja kalimat ini tidak lengkap.<br />
<span id="more-128"></span>Adakalanya suatu kalimat membutuhkan objek dan keterangan, tetapi karena kelalaian penulis, salah satu atau kedua unsur ini terlupakan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut:</p>
<ol>
<li>Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif.</li>
<li>Masalah yang dibahas dalam penelitian ini</li>
<li>Untuk membuat sebuah penelitian harus menguasai metodologi penelitian.</li>
<li>Bahasa Indonesia yang berasal dari melayu.</li>
<li>Dalam rapat pengurus kemarin sudah memutuskan.</li>
<li>Sehingga masalah itu dapat diatasi dengan baik.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kalau kita perhatikan kalimat di atas terlihat bahwa kalimat (1) tidak memiliki subjek karena didahului oleh kata depan dalam; kalimat (2) dan (4) tidak memiliki predikat hanya memiliki subjek saja; kalimat (3) tidak memiliki subjek; kalimat (5) tidak memiliki subjek dan objek; kalimat (6) tidak memiliki subjek dan predikat karena hanya terdiri atas keterangan yang merupakan anak kalimat yang berfungsi sebagai keterangan. Agar kalimat-kalimat di atas menjadi lengkap, kita harus menghilangkan bagian-bagian yang berlebih dan menambah bagian-bagian yang kurang sebagaimana terlihat pada contoh berikut.</p>
<ol>
<li>Penelitian ini menggunakan metode deskriptif.</li>
<li>Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah jenis dan makna.</li>
<li>Untuk membuat sebuah penelitian kita harus menguasai metodologi penelitian.</li>
<li>Bahasa Indonesia berasal dari melayu.</li>
<li>Dalam rapat pengurus kemarin kita sudah memutuskan program baru.</li>
<li>Kita harus berusaha keras sehingga masalah itu dapat diatasi dengan baik.</li>
</ol>
<br />Posted in BAHASA, Sintaksis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=128&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/ketidaklengkapan-unsur-kalimat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalimat Efektif</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-efektif/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 02:42:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA]]></category>
		<category><![CDATA[Sintaksis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa yang diguanakan dalam berkomunikasi hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar sesuatu yang dipikirkan, dinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut dengan kalimat efektif. Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=126&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bahasa yang diguanakan dalam berkomunikasi hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar sesuatu yang dipikirkan, dinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut dengan kalimat efektif.<br />
<span id="more-126"></span>Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah (Mustakim, 1994:86).<br />
Menurut Nazar (1991, 44:52) ketidakefektifan kalimat di kelompokan menjadi ketidaklengkapan unsur kalimat, kalimat dipengaruhi oleh bahasa asing dan bahasa daerah, kalimat mengandung makna ganda, kalimat bermakna tidak logis, kalimat mengandung gejala pleonasme, dan kalimat dengan struktur rancu.</p>
<br />Posted in BAHASA, Sintaksis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=126&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/11/kalimat-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UNSUR-UNSUR NOVEL</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/unsur-unsur-novel/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/unsur-unsur-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 22:20:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[alur]]></category>
		<category><![CDATA[amanat]]></category>
		<category><![CDATA[ekstrinsik]]></category>
		<category><![CDATA[interinsik]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<category><![CDATA[tema]]></category>
		<category><![CDATA[unsur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Unsur-unsur yang terdapat dalam novel ada dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu unsur-unsur dalam yang membangun utuhnya sebuah novel. Unsur intrinsik contohnya tema, alur, latar, tokoh, penokohan, sudut pandang, gaya cerita, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang ikut membangun utuhnya sebuah novel seperti keagamaan, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=87&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Unsur-unsur yang terdapat dalam novel ada dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu unsur-unsur dalam yang membangun utuhnya sebuah novel. Unsur intrinsik contohnya tema, alur, latar, tokoh, penokohan, sudut pandang, gaya cerita, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang ikut membangun utuhnya sebuah novel <span id="more-87"></span>seperti keagamaan, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan nilai-nilai yang dianut masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">A.  Unsur Intrinsik Novel</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra.</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat novel terwujud. Atau sebaliknya, jika dari sudut pandang pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca novel. Unsur yang dimaksud, untuk menyebut sebagian saja, misalnya tema, peristiwa, cerita, plot, penokohan, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2000:23).</p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa unsur intrinsik sebuah novel itu diantaranya adalah tema, tokoh, penokohan, latar, alur sudut pandang, dan, amanat. Unsur tersebut dibangun dengan perpaduan yang menyatu dan berkesinambungan.</p>
<p style="text-align:justify;">1.    Tema</p>
<p style="text-align:justify;">Stanton dan Kenny dalam Nurgiyantoro (2000:67) berpendapat bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Pengarang dalam menulis sastra biasanya bercerita tetapi hendaknya mengatakan sesuatu kepada pembacanya. Karya sastra yang baik tentunya harus bermakna. Makna sebuah cerita novel tidak secara jelas dikatakan oleh pengarang tetapi menyatu dengan unsur novel yang harus ditafsirkan pembaca. Secara singkat, Brooks dan Waren mengatakan hal yang sama bahwa tema adalah dasar atau makna sebuah cerita (Tarigan, 1984:688).</p>
<p style="text-align:justify;">Aminuddin (2002:91) menjelaskan bahwa tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Selain itu Fananie (2001:84) juga menjelaskan Ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatar belakangi cipta karya sastra merupakan inti dari tema</p>
<p style="text-align:justify;">Tema berarti pokok pikiran atau masalah yang dikemukakan dalam sebuah cerita atau puisi oleh pengarangnya (Badudu dan Zain, 1994:16463). Dengan, tema semua permasalahan dalam sebuah karya sastra akan terwujud dengan baik dan benar. Oleh karena itu, peranan tema menjadi pokok pikiran yang diutamkan dalam membuat karya sastra.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari beberapa pendapat diatas yang telah dikemukakan di atas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa tema merupakan suatu ide, pokok pikiran yang mengandung mkana dan merupakan suatu gagasan sentral dalam sebuah cerita.</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Tokoh dan Penokohan</p>
<p style="text-align:justify;">Jalan cerita dalam novel dilakukan oleh tokoh cerita. Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991:16). Tokoh pada umumnya berwujud manusia, tetapi juga dapat berwujud binatang atau benda-benda yang diinsankan. Individu ini semata-mata hanya bersifat rekaan, tidak ada dalam dunia nyata. Bila pun ada mungkin hanya kemirip-miripan dengan individu tertentu yang memiliki sifat-sifat yang sama yang kita kenal dalam kehidupan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengertian tentang tokoh di umgkapkan pula oleh Abram yang di kutif dari Nurgiyantoro (2000:165) bahwa tokoh cerita (<em>character</em>) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya fiksi, oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral yang diekspresikan dalam ucapan dan dalam tindakan. Tokoh yang baik dalam cerita adalah tokoh yang dianggap oleh pembaca sebagai tokoh konkret. Walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan, ia haruslah merupakan seorang tokoh yang hidup secara wajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Membicarakan masalah tokoh berarti membicarakan pula penokohan. Penokohan menyaran pada perwatakan, karakter dari tokoh yang menunjuk pada sifat dan sikap. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan tokoh-tokoh dalam cerita (Kosasih, 2003:256).</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan definisi tentang tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah pelaku cerita yang ditampilkan pengerang sesuai dengan penggambaran aspek kejiwaan dan tinngkah laku seseorang dalam kehidupan. Sedangkan penokohan adaah watak yang dimilki oleh tokoh cerita.</p>
<p style="text-align:justify;">3.      Latar</p>
<p style="text-align:justify;">Latar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat, waktu dan keadaan yang menimbulkan peristiwa dalam sebuah cerita. Peristiwa-peristiwa terjadi pada suatu waktu dan pada tempat tertentu (Yusuf, 1995:159). Hal itu sejalan dengan yang diungkapkan Sudjiman (1991:44). Ia mengungkapkan bahwa Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya membangun latar cerita</p>
<p style="text-align:justify;">Hal serupa diungkapkan oleh Abram dalam Nurgiyantoro (2000:216) yang menyebutkan bahwa latar sebagai landas tumpu yang menyaran pada tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa diceritakan. Latar memberikan pijakan secara konkret dan jelas. Hal ini sangat penting untuk memberikan kesan yang lebih realistis kepada pembaca, sehingga pembaca mampu menggunakan daya imajinasinya. Suasana yang diceritakan seolah-olah pernah terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pentingnya latar dalam novel dikemukakan pula oleh Hartoko dan Rahmanto (1986:78). Dikatakan bahwa latar adalah penempatan dalam ruang dan waktu seperti terjadi dengan karya naratif atau dramatis. Latar penting untuk menciptakan suasana dalam karya. Selanjutnya Maman Mahayana (2005:178) menjelaskan pengahadiran latar oleh pengarang tentu bukan tanpa maksud. Ada sesuatu yang hendak disampaikan, baik untuk keindahan, maupun untuk memperkuat tema. Hal tersebut merupakan bagian dari fungsi latar pada sebuah novel.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih luas lagi Sumarjo (1986:75) menambahkan bahwa <em>setting</em> atau latar dalam karya fiksi bukan hanya sekedar <em>background</em> artinya bukan hanya menunjukan tempat kejadian dan kapan terjadinya. Sebuah novel memang harus terjadi di suatu temoat dan dalam suatu waktu. Intinya sebuah cerita didasarkan atas tempat atau ruang terjadinya sebuah peristiwa.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Kenney dalam Sudjiman (1991:44) menegaskan bahwa latar meliputi penggambaran lokasi geografis, temasuk tipografi pemandangan, sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan. Misalnya pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu terjadinya peristiwa, masa sejarahnya, musim terjadinya termasuk lingkungan agama, moral, intelektual, sosial masyarakat serta emosional para tokoh.</p>
<p style="text-align:justify;">Latar dibagi ke dalam dua jenis yaitu latar fisik dan latar spritual. Latar fisik terdiri dari latar tempat dan waktu. Nama-nama lokasi tertentu seperti nama kota, desa, jalan, sungai, dan lain-lain. Hubungan waktu seperti tahun, tanggal, pagi, siang, malam, dan lain-lain yang menyaran pada waktu tertentu merupakan latar waktu. Latar spritual dalam karya fiksi berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku ditempat bersangkutan. Ada juga yang menyebutnya sebagai latar sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang telah dikemukakan, unsur latar di bedakan atas tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari definisi latar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa latar adalah lingkungan sosial, tempat dan waktu yang diciptakan pengarang guna memberikan kesan realistis kepada pembaca mengenai peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.</p>
<p style="text-align:justify;">4.      Alur</p>
<p style="text-align:justify;">Alur atau plot merupakan kerangka dasar yang amat penting. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain.  Plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat.</p>
<p style="text-align:justify;">Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin, 2002:83). Latar merupakan cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa plot merupakan rangkaian peristiwa dalam suatu cerita berdasarkan hubungan sebab akibat dan maju mundurnya waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">5.       Sudut Pandang</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam penyampaian cerita, pengarang dapat menggunakan sudut pandang melalui cerita. Dalam hal ini, pencerita tidak sama dengan pengarang. Pencerita adalah tokoh yang menyampaikan cerita yang dapat dilakukan melalui pencerita orang pertama (aku) dan orang ketiga (dia). Oleh karena itu, perncerita bisa dibedakan berdasarkan siapa penceritanya (Mahayana, 2005: 157).</p>
<p style="text-align:justify;">Abrams menyatakan bahwa sudut pandang atau <em>Point of view</em>, menyaran kepada sebuah cerita dikisahkan. Ini merupakan cara ataupandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2000: 142). Sudut pandang juga merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya, untuk dapat sampai dan berhubungan dengan pembaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudut pandang cerita itu sendiri secara garis besar dapat dibedakan ke dalam dua macam, yaitu persona pertama, first-persona, gaya “Aku”, dan persona ketiga, third-persona, gaya “Dia”. Jadi dari sudut pandang “Aku” dan “Dia” , dan variasinya, sebuah cerita dikisahkan. Kedua sudut pandang tersebut masing-masing menuntut konsekuensinya sendiri. Pleh karena itu, wilayah kebebasan dan keterbatasan perlu diperhatikan secara objektif sesuai dengan kemungkinan yang dapat dijangkau sudut pandang yang dipergunakan. Bagaimana pun pengarang mempunyai keterbatasan yang tak terbatas. Ia dapat mempergunakan beberapa sudut pandang dalam sebuah kaya jika hal itu dirasakan lebih efektif (Nurgiyantoro: 2000: 251).</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa sudut panang merupakan penempatan diri pengarang dan cara pengarang dalam melihat kejadian-kejadian dalam cerita yang dipaparkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">6.      Amanat</p>
<p style="text-align:justify;">Amanat adalah suatu ajakan moral, atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara implisit ataupun eskplisit. Implisit, jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan di dalm tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir (Sudjiman, 1991:35). Eksplisit, jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, ujaran, larngan, dan sebagainya, berkenaan dengan gagasan yang mendasari gagasan itu (Sudjiman, 1991:24).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan amanat adalah pesan atau nasihat pengarang yang disampaikan kepada pembaca, secara implisit ataupun eksplisit.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">B.         Unsur Ekstrinsik Novel</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, namun secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra (Nurgiyantoro, 2000:24), unsur-unsur ekstrinsik ini anatara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang mempunyai sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang semuanya akan mempengaruhi karya sastra yang ditulisnya. Tjahjno (1988:450) juga mengutarakan bahwa unsur ekstrinsik karya sastra adalah hal-hal yang berada di luar struktur karya sastra, namun amat dipengaruhi karya sastra tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Rene Wellek dan Austin Warren dalam Tjahajono (1988:450), pengkajian terhadap segi ekstrinsik karya sastra mencakup empat hal yaitu:</p>
<ol>
<li>Mengkaji hubungan antara sastra dengan biografi atau psikologi pengarang. Yang jelas anggapan dasarnya bahwa latar belakang kehidupan pengarang tau kejiwaannya akan mempengarauhi terhadp proses penciptaan karya sastra.</li>
<li>Mengkaji hubungan sastra dengan aspek-aspek politik, sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Situasi sosial palitik ataupun realita budaya tertentu akan berpengaruh terhadap karya sastra.</li>
<li>Mengkaji hubungan antara sastra dengan hasil-hasil pemikiran manusia, ideologi, filsafat, pengetahuan, dan teknologi.</li>
<li>Mengkaji hubungan antara sastra dengan semangat zaman, atmosfir atau iklim aktual tertentu. Semangat zaman di sini bisa menyangkut masalah aliran semanagt digemari saat ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra bergantung pada pengarang menceritakan karya itu. Unsur ekstrinsik mengandung nilai dan norma yang telah dibuatnya. Norma adalah suatu ketentuan atau peraturan-peraturan yang berlaku dan harus ditaati oleh seseorang. Di dalam <em>Dictionary Of Sociology and Related Sciences</em> dikemukakan juga bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia (Kaelan, 2002:174).</p>
<br />Posted in Novel, SASTRA  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=87&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/unsur-unsur-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JENIS-JENIS NOVEL</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/jenis-jenis-novel/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/jenis-jenis-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 22:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Muchtar Lubis dalam Tarigan (1984:165) cerita novel itu ada bermacam-macam, antara lain: Novel avonuter adalah bentuk novel yang dipusatkan pada seorang lakon atau tokoh utama. Ceritanya dimulai dari awal sampai akhir para tokoh mengalami rintangan-rintangan dalam mencapai maksudnya. Novel psikologi merupakan novel yang penuh dengan peristiwa-peristiwa kejiwaan para tokoh. Novel detektif adalah novel yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=85&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Menurut Muchtar Lubis dalam Tarigan (1984:165) cerita novel itu ada bermacam-macam, antara lain:</p>
<ol>
<li><span id="more-85"></span>Novel avonuter adalah bentuk novel yang dipusatkan pada seorang lakon atau tokoh utama. Ceritanya dimulai dari awal sampai akhir para tokoh mengalami rintangan-rintangan dalam mencapai maksudnya.</li>
<li>Novel psikologi merupakan novel yang penuh dengan peristiwa-peristiwa kejiwaan para tokoh.</li>
<li>Novel detektif adalah novel yang merupakan cerita pembongkaran rekayasa kejahatan untuk menagkap pelakunya dengan cara penyelidikan yang tepat dan cermat.</li>
<li>Novel Politik atau novel sosial adalah bentuk cerita tentang kehidupan golongan dalam masyarakat dengan segala permasalahannya, misalnya antara kaum masyarakat dan buruh dengan kaum kapitalis terjadi pemberontakan.</li>
<li>Novel kolektif adalah novel yang menceritakan pelaku secara kompleks (menyeluruh) dan segala seluk beluknya. Novel kolektif tidak mementingkan individu masyarakat secara kolektif.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan menurut Jakob Sumardjo dan Saini K.M (1986:29), jenis novel adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">1)     Novel Percintaan</p>
<p style="text-align:justify;">Novel percintaan melibatkan peranan tokoh wanita dan pria secara seimbang bahkan kadang-kadang peranan wanita lebih dominan.</p>
<p style="text-align:justify;">2)     Novel Petualangan</p>
<p style="text-align:justify;">Novel petualangan sedikit sekali memasukan peranan wanita. Jika wanita di sebut dalam novel ini maka penggambarannnya kurang berkenan. Jenis novel ini adalah bacaan pria. Karena tokoh-tokohnya adalah pria, dan dengan sendirinya banyak masalah untuk laki-laki yang tidak ada hubungannya dengan wanita.</p>
<p style="text-align:justify;">3)     Novel Fantasi</p>
<p style="text-align:justify;">Novel fantasi bercerita tentang hal-hal yang tidak realistis dan serba tidak mungkin dilihat dari pengalaman sehari-hari. Novel jenis ini menggunakan karakter yang tidak realistis, setting, dan plot yang juga tidak wajar untuk menyampaikan ide-ide penelitinya.</p>
<br />Posted in Novel, SASTRA  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=85&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/jenis-jenis-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CIRI-CIRI NOVEL</title>
		<link>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/ciri-ciri-novel/</link>
		<comments>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/ciri-ciri-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 10:59:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bahasaplus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[ciri]]></category>
		<category><![CDATA[karakteristik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elmubahasa.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Brook dalam Tarigan (1984:185) memberikan ciri-ciri novel sebagai  berikut: Novel bergantung pada tokoh Novel menyajikan lebih dari satu impresi. Novel menyajikan lebih dari satu efek. Novel menyajikan lebih dari satu emosi. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa novel memiliki ciri-ciri, yaitu sebuah novel bergantung pada tokoh yang diperankannya dan bagaimana pengarang memainkan tokoh yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=83&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Brook dalam Tarigan (1984:185) memberikan ciri-ciri novel sebagai  berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Novel bergantung pada tokoh</li>
<li>Novel menyajikan lebih dari satu impresi.</li>
<li>Novel menyajikan lebih dari satu efek.</li>
<li>Novel menyajikan lebih dari satu emosi.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa novel memiliki ciri-ciri, yaitu sebuah novel bergantung pada tokoh yang diperankannya dan bagaimana <span id="more-83"></span>pengarang memainkan tokoh yang nanti akan diceritakannya. Kedua, menyajikan lebih dari satu empresi artinya sebuah novel biasanya menyajikan lebih dari satu kesan dari pembaca maupun pengarang, ketiga, lebih dari satu efek yang artinya menyebabkan akibat, kesan, dan pengaruh dalam sebuah novel. Terakhir, novel menyajikan lebih dari satu emosi yang artinya suatu perasaan yang nanti akan timbul dalam sebuah cerita.</p>
<br />Posted in Novel, SASTRA  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/elmubahasa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/elmubahasa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/elmubahasa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/elmubahasa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/elmubahasa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/elmubahasa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/elmubahasa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/elmubahasa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/elmubahasa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/elmubahasa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/elmubahasa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/elmubahasa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/elmubahasa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/elmubahasa.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=elmubahasa.wordpress.com&amp;blog=10800994&amp;post=83&amp;subd=elmubahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elmubahasa.wordpress.com/2009/12/06/ciri-ciri-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a0a7c64c29cc8f2434eaee5f9a01d1b9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
